Skip to main content

Novel Fiksi Umum

 


Assalamualaikum wr., wb.

Kali ini saya kembali lagi bersama beberapa jajaran novel yang cukup fenomenal pada awal published-nya. Hampir semua orang membicarakan novel-novel di atas setiap hari. Mungkin saya update agak telat karena memang blog saya juga belum lama dibuat. Untuk itu saya mohon maaf sebesar-besarnya hehe..

Sebenarnya novel-novel di atas cenderung pada genre romance ya menurut saya. Namun beberapa mencampur dengan historical-fiction dan ada yang membumbui dengan adventure, jadi saya lebih nyaman menyebutnya sebagai fiksi umum.

Tiga dari keempat novel di atas seperti must to buy-nya para pecinta buku. Jujur saya membeli juga karena kepo berat, sebagus apa sih isi dari novel-novel ini sampai sebegitu viralnya diomongin semua orang?

Jadi bagi teman-teman yang belum sempat membeli mungkin bisa kita bedah dulu ya, tanpa spoiler ceritanya yang pasti. Yuk mari kita simak ^^.


1. Laut Bercerita.


Diterbitkan oleh: PT. Gramedia, Jakarta.

Tahun terbit: Cetakan kedelapan, 2019.

Tebal Buku: 379 halaman.

Dimulai dari pemilihan cover, menurut saya ini adalah novel dengan cover yang sangat aesthetic. Lukisan terumbu karang dan ikan-ikan yang warna warni berpadu dengan birunya perairan tampak begitu ceria. Sebelum menyadari bahwa ada sepasang kaki yang terbelenggu rantai di dasarnya. Cover yang disajikan sudah sangat menggambarkan gambaran cerita secara luas.


Mengangkat latar di tahun 1998, ketika kerusuhan dan demo besar-besaran mahasiswa memuncak untuk menggulingkan rezim Soeharto. Leila S. Chudori melakukan riset besar-besaran untuk mendalami setiap karakter yang beliau bawakan. Terutama beliau menggunakan sudut pandang orang pertama dalam cerita sehingga, selain gestur fisik, beliau juga harus menyampaikan perasaan para tokoh dengan lebih mendalam. Dengan ini, novel tersebut dapat masuk pada kategori his-fic.


Berkisah tentang seorang mahasiswa yang bernama Biru Laut yang menjadi salah satu pendukung reformasi, Leila memainkan emosi dengan epik saat memberikan sang tokoh utama latar belakang dari keluarga yang hangat dan segala kebiasaannya. Ditambah lagi dengan kisah cintanya dengan Anjani, Leila berhasil membangun romantisme kedua tokoh yang sangat kental meski di tengah kondisi huru-hara dan komunikasi yang terbatas. Dalamnya perasaan kedua tokohlah yang menjadikan kisah cinta mereka berkualitas, tak membutuhkan banyak kata-kata gombalan seperti roman picisan lainnya.


Yang unik dari kisah ini ialah dari awal Leila sudah menyuguhkan bahwa sang tokoh telah berakhir tenggelam di dasar lautan bersama ikan-ikan, jadi kita sudah tahu akhir sang tokoh bakal kayak gimana. Namun semakin hanyut dalam bacaan, semakin dipermainkan juga perasaan pembaca. Biasanya, pembaca sering sekali berdebat antara happy ending vs sad ending, Leila telah memberikan gambaran dari sejak pertama kita memasuki novelnya tanpa mengurangi sedikitpun minat pembaca untuk melanjutkan bacaannya hingga akhir cerita.


Selain itu, penamaan tokohnya juga keren. Biru Laut, Asmara Jati, Alex Perazon, Anjani, dll. Seperti mewakili nama yang Indonesia banget dari latar daerah yang berbeda-beda. Karakter masing-masing tokoh juga sangat kuat dan saling mengisi kekosongan dalam cerita sehingga membawa kita seolah memasuki lebih dalam lagi suasana di novel tersebut.


Penggunaan bahasanya cukup frontal khas kemarahan mahasiswa yang menuntut perubahan karena ketidakpuasan terhadap regulasi pemerintah. Terdapat beberapa adegan dewasa juga seperti hubungan badan dan kekerasan. Jadi novel ini lebih cocok dibaca oleh rentang usia di atas 21 tahun.


Rating dari saya: 8,9/10.


2. I'll Be Right There.


Diterbitkan oleh: PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Tahun terbit: 2016.

Tebal Buku: 396 halaman.


Sebenarnya saya tak terlalu suka dengan novel Korea karena saya sulit menghapal penyebutan nama tokohnya yang biasanya terdiri dari 3 suku kata (Korea & China). Jangan salah sangka, saya termasuk pecinta drama korea dan manhwa juga kok. Karena dalam novel tidak ada visualisasi tokoh, jadi saya sering keliru. Jadi novel-novel korea seperti ini dan The Hole yang sempat saya bahas kapan lalu bukan sengaja saya beli, tapi saya dapat dari paketan prelove buku yang ditawarkan di base literaly.


Terlepas dari argumentasi pribadi saya tentang nama tokoh, saya cukup tersiksa di awal membaca novel di atas. Penggunaan diksinya cukup berbelit-belit. Saya tidak tahu ini permasalahan dari penerjemah atau memang dari penulisnya memang blibet gitu, karena membaca buku-buku terjemahan juga seperti untung-untungan. Kalau terjemahannya bagus maka kita akan mudah memahami, begitu pula sebaliknya. Namun ketika saya memaksakan untuk terus membaca dengan meneriakkan slogan "Terobos ae lah", ternyata memang ada beberapa bagian cerita yang diulang-ulang seperti si tokoh utama yang dikirimkan ibunya ke kota karena si ibu mengalami sakit keras dan tahu umurnya takkan panjang. Jadi dengan berat hati penggunaan diksinya saya katakan, "Cukup membosankan." 


Masuk ke materi yang diangkat, sama seperti novel sebelumnya, Kyung-Sook Shin juga mengangkat latar cerita di Korea pada masa terjadi huru-hara demonstrasi mahasiswa besar-besaran pada awal 1990-an. 


Berkisah tentang Jeong Yun yang dihubungi oleh mantan kekasihnya Myeong Seo untuk mengujungi dosen sastra mereka ketika kuliah, Prof. Yoon. Kemudian pembaca akan diajak kembali ke masa lalu kedua kekasih tersebut serta mengintip kisah keduanya melalui sudut pandang pertama, Yun. 


Menurut saya pribadi tak ada bumbu romantis yang benar-benar melekat dari kisah cinta keduanya yang benar-benar intim, meski si Yun diberikan dua benda paling berharga oleh Myeong Seo. Namun mereka malah lebih cenderung sibuk dengan dunia masing-masing ketimbang menceritakan hal-hal yang "hanya berdua saja" atau detail perasaan Yun sebagai tokoh utama ke Myeong Seo. Yun seperti terlalu sibuk dengan perasaannya terhadap kenyataan yang dialami oleh orang-orang sekitarnya. Seperti kematian ibunya, kejadian yang menimpa Mi Ru (teman masa kecil Myeong Seok), tentang teman masa kecilnya (Dan), juga tentang cerita Prof. Yoon. Dengan alasan tersebut untuk mengkategorikan novel ini sebagai genre romantis yang berhasil agaknya susah juga. Meskipun pembaca dapat melihat bagaimana sosok Yun di mata Myeong Seo melalui buku catatan cokelatnya yang ia berikan pada Yun.


Poin plus-nya ialah, pengupasan materi sastra dalam cerita cukup kompleks. Tentang puisi-puisi legendaris hingga karya sastra lainnya yang bisa kita intip beberapa cuplikannya di novel tersebut. Salah satunya bahkan terdapat kutipan surat Van Gogh pada adiknya Theo yang Kyung-Sook Shin selipkan. Juga beberapa kisah yang dapat dijadikan moral value bagi pembaca zaman sekarang yang mulai hidup tercerai-berai dengan memberikan materi tentang Christopher atau Santo Christoforus.


Novel ini benar-benar menguras kewarasan saya dengan kejadian-kejadian yang didengar oleh Yun maupun yang ia alami sendiri.


Rating dari saya: 6,6/10. Maaf sekali karena saya benar-benar tidak nyaman dengan diksinya, bahkan saya memaksakan diri untuk memulai membaca halaman awalnya sebanyak 4 tau 5 kali sebelum akhirnya bisa menyelesaikannya.


3. Aroma Karsa


Diterbitkan oleh: PT. Bentang Pustaka, Yogyakarta.

Tahun terbit: Cetakan pertama, 2018.

Tebal Buku: 710 halaman.


Dari tebal halaman pasti sudah agak ngos-ngosan ya lihatnya hehe..

Tapi sungguh saya lebih menikmati membaca novel ini daripada novel sebelumnya. saya menghabiskan waktu kurang lebih satu minggu penuh untuk menamatkannya. Iya saya tahu, siput. hehe..

Beberapa kali saya mengatakan bahwa vibe dalam novel Aroma Karsa ini seperti penggabungan dua film Anaconda yang anggrek merah dan Parfume. 


Dibuka dengan sejarah tentang bunga bernama Puspa Karsa yang konon memiliki aroma yang sedemikian memabukkan sehingga dapat digunakan untuk mengontrol manusia. Dee melibatkan berbagai tokoh yang memiliki latar yang cukup berat seperti tim arkeolog dan seorang pemimpin perusahaan yang ambisius meneruskan misi sang nenek dalam menemukan keberadaan bunga tersebut.


Selain disisipi adventure, Dee juga memasukkan unsur-unsur magis dan fantasi di dalam ceritanya. Sehingga membangun imajinasi pembaca menjadi lebih berkembang. Kedua unsur tersebut (magis dan fantasi) merupakan hal yang cukup sulit dikembangkan, terlebih Dee memilih latar waktu di dunia modern saat ini dan juga bersanding dengan vibe Crazy Rich. Namun Dee berhasil membuatnya tampak logis dan diterima akal sehingga pembaca akan sulit menyangkal.


Dee menggunakan sudut pandang ketiga tidak terbatas. Saya kira awalnya, Main Character dalam Aroma Karsa ialah Raras Prayagung. Satu-satunya pewaris perusahaan keluarga Prayagung yang ambisius. Namun ternyata pembaca akan digiring untuk bertemu dengan Jati Wesi dan Tanaya Suma (putri tunggal Raras) yang memiliki kemampuan penciuman yang sama-sama begitu tajam dengan latar belakang keluarga yang jauh berbeda. Ada banyak teka-teki sebelum pembaca masuk ke puncak cerita. Semakin masuk, maka akan semakin tersingkap rahasia-rahasia yang terdapat di dalamnya. Pun dengan perkembangan karakter serta perasaan para tokoh yang begitu halus sehingga terasa sangat wajar.


Novel ini saking begitu fenomenalnya, beberapa waktu lalu ketika ada penghuni base literaly memberikan tantangan untuk menunjukkan koleksi buku, saya melihat hampir semuanya memiliki satu eksemplar novel ini. Mungkin karena beberapa waktu lalu memang sempat ada sale besar-besaran hingga hanya perlu membeli senilai 1000 rupiah saja. Selain itu, penggunaan diksi yang indah dan tepat pada tempatnya sehingga tak terasa membosankan ala Dee Lestari memang layak mendapatkan apresiasi sebesar itu. Meskipun tanpa ada diskon dan tetap dipatok harga normal, sepertinya takkan mengurangi minat para pecinta buku untuk memiliki salah satu buku must to buy ini deh.


Rating dari saya 8,9/10


4. Jakarta Sebelum Pagi 


Diterbitkan oleh: PT. Gramedia, Jakarta.

Tahun terbit: Cetakan kedua, 2017.

Tebal Buku: 270 halaman.


Ini adalah novel favorit saya ^^

Saking sukanya saya tuh sering rekomendasiin ke teman-teman, ke saudara, ke semua orang yang saya kenal. hehe..


Ziggy mengangkat genre cerita romance-comedy, dengan gaya bahasa yang sangat ringan dan dapat dinikmati oleh siapa saja dan kapan saja. 


Cerita tentang seorang wanita karir yang tinggal di Jakarta dengan segala pemikiran absurd-nya, Emina mampu memberikan gambaran-gambaran kocak hanya dari sudut pandangnya. Ia melihat semua orang seperti babi setelah membaca sebuah buku karya George Orwell berjudul Animal Farm. Pengambilan sudut pandang pertama semakin mempertegas dan memperjelas penggambaran cara berpikir si tokoh utama.


Novel ini juga mengantarkan banyak pembaca untuk membeli buku yang sama seperti yang dibaca oleh Emina saking penasarannya mengapa gadis itu memiliki pola pikir demikian. Saya bahkan juga latah untuk membeli karya Orwell tersebut. Ada dua yang saya beli, lain kali akan saya bahas karena salah satunya belum selesai dibaca hehe.


Emina dan segala keanehannya juga memiliki kisah cinta yang tak biasa dengan Abel, yang dijuluki Nissa (sahabatnya di kantor), sebagai penguntit. Ziggy memberikan penggambaran masing-masing tokoh dengan sangat unik. Seperti kakek Emina yang bertahun-tahun hanya berdeham untuk berkomunikasi, dan beberapa latar belakang tokoh lain yang tak kalah mengejutkannya. 


Ada banyak hal yang Ziggy ulas dalam novelnya termasuk penggambaran Jakarta di masa lampau yang Emina kulik bersama Abel di dini hari. Mungkin itulah sebabnya ia memberi judul novel tersebut Jakarta Sebelum Pagi.


Saya takkan membahas lebih banyak lagi, dilihat dari seberapa berpengaruh buku ini sehingga menggerakkan orang lain untuk penasaran dan membeli novel lain yang ia jadikan acuan, sudah jelas kan seberapa berhasil author dalam menuliskan ceritanya? 


Penasaran untuk berkenalan dengan tokoh-tokoh di Jakarta Sebelum Pagi dan bagaimana Emina mengatasi masalahnya dengan cara pikir yang berbeda dengan orang kebanyakan? Ayo dong penasaran dong hehe... Novel ini bisa di temui di olshop-olshop kesayangan teman-teman ya~


Rate dari saya: 9,8/10

Iyes setinggi itu, sesuka itu saya, soalnya sangat menghibur dan khas banget.


Untuk pengulasan buku kali ini cukup sekian dari saya, sampai berjumpa lagi di lain kesempatan ^^

Semoga teman-teman menikmati ulasannya ya~











Comments

Popular posts from this blog

Self-Improvement Books

Assalamualaikum, wr. wb. Hallo :) Saya Nef, untuk pertama kali saya membuat konten pada blog seperti sekarang ini. Semoga tidak terlalu buruk ya untuk ukurah pemula huhu...Oh iya Nef saya ambil dari inisial nama asli saya NF. Teman-teman literasi saya biasa memanggil saya demikian karena nama pena saya cukup ribet "Judging The Norm" hehe... Sebelum memulai blog tentang literasi atau buku-buku bacaan ini, saya juga menulis karya-karya fiksi dalam sebuah platform online yang terkenal dengan istilah dunia orange tapi bukan tempat belanja dengan nama pena tersebut.  Okey langsung saja kita ulas dari buku-buku yang dapat meningkatkan kualitas diri (klaimnya sih begitu), apa saja buku tersebut? Sebenarnya ada lebih banyak dari ketiga buku di atas ya. Namun saya hanya membeli "mereka" karena pada saat itu hype banget di literary base pada twitter. Tentu saja bakat "membeli jajan" saya terpanggil dan mencari tanggal yang tempat untuk melakukan check out di marke...

Karya George Orwell

  Assalamualaikum wr. wb. Setelah sekian lama saya tenggelam, akhirnya saya bisa kembali lagi menorehkan ulasan terhadap buku-buku ciamik. Kali ini yang akan saya bahas adalah karya-karya legend dari George Orwell. Orwell yang memiliki nama asli Eric Arthur Blair, merupakan mantan polisi yang ditugaskan di Burma, juga seorang veteran yang pernah ikut berperang dalam perang saudara di Spanyol pada 1936. Hingga akhirnya beliau bekerja untuk BBC Eastern Service dan menjadi redaksi sastra yang sering berkomentar tentang politik dan sastra setelahnya. Background penulis sendiri memiliki daya tarik yang begitu besar yang membuat kita menerka-nerka seperti apa sih tulisannya? Yuk kita intip ^^ 1. Animal Farm Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang. Edisi II cetakan kesebelas, tahun terbit: 2021. Tebal buku: 142 halaman. D ari covernya sudah diiming-imingi dengan jargon "Novel klasik fenomenal." Tentu saja itu cara marketing yang keren. Membuat calon pembeli jadi terpikat. Tapi saya priba...

The Poppy War Series

  Assalamualaikum wr., wb. Kali ini saya ingin mengulas buku bacaan yang gak kalah fenomenal, bahkan saya sangat antusias terhadap series ini.  Sebelumnya saya mohon maaf karena seharusnya series ini merupakan trilogi, namun yang ketiga belum saya beli karena masih dalam proses penerjemahan (katanya) dan belum ada uangnya hehe ^^. Semoga lekas terbeli dan saya bisa melengkapi ulasan trilogi dari perang opium yang digagas oleh R. F. Kuang. Saya pribadi merupakan orang yang tak terlalu gemar membaca genre fantasi, namun sisipan historical fiction membuat saya bertekad untuk membeli serial ini. Namun, saya tidak salah pilih membeli serial ini sebagai pengantar yang membuat saya penasaran dengan cerita fantasi tinggi lainnya. Karena Kuang benar-benar berhasil membawa pembacanya menelusuri dunia dan merasakan kekuatan yang ia ciptakan. Tak perlu fafifu lagi, mari kita review.  1. The Poppy War. Diterbitkan oleh: Gramedia Pustaka Utama. Tahun terbit: 2019. Tebal buku: 568 halam...