Skip to main content

Self-Improvement Books



Assalamualaikum, wr. wb.

Hallo :)

Saya Nef, untuk pertama kali saya membuat konten pada blog seperti sekarang ini. Semoga tidak terlalu buruk ya untuk ukurah pemula huhu...Oh iya Nef saya ambil dari inisial nama asli saya NF. Teman-teman literasi saya biasa memanggil saya demikian karena nama pena saya cukup ribet "Judging The Norm" hehe... Sebelum memulai blog tentang literasi atau buku-buku bacaan ini, saya juga menulis karya-karya fiksi dalam sebuah platform online yang terkenal dengan istilah dunia orange tapi bukan tempat belanja dengan nama pena tersebut. 

Okey langsung saja kita ulas dari buku-buku yang dapat meningkatkan kualitas diri (klaimnya sih begitu), apa saja buku tersebut?



Sebenarnya ada lebih banyak dari ketiga buku di atas ya. Namun saya hanya membeli "mereka" karena pada saat itu hype banget di literary base pada twitter. Tentu saja bakat "membeli jajan" saya terpanggil dan mencari tanggal yang tempat untuk melakukan check out di market place kesayangan setelah menemukan harga paling ekonomis dari toko yang menjual paling banyak. Sudah macam perjodohan aja ya? hehe..

Yup saya penasaran mengenai efek apa yang akan saya dapatkan setelah membaca buku-buku yang diagungkan oleh netizen tersebut. Benar nggak sih akan merubah kita menjadi pribadi yang lebih baik? Mari kita ulas satu per satu.





Yang pertama, bukunya Bapak Mark Manson. Dari judul dia sudah sangat berani ya, judul aslinya sebelum diterjemahkan ialah "The Suble Art of Not Giving a F*ck". Mungkin dari keberanian judul itu pula yang menjadikan buku tersebut menjadi salah satu yang terlaris versi New York Times dan Globe and Mail. Siapa sih yang tidak tergelitik dan penasaran dengan buku yang biasanya memiliki judul yang sangat kaku dan terkesan akademis, kemudian bertemu buku berjudul agak nyeleneh?

Selain judul, Manson juga melabeli bukunya sebagai "Pendekatan yang Waras Demi Menjalani Hidup yang Baik". Mungkin ini sangat relate dengan kehidupan orang-orang di New York yang mengalami tekanan psikis karena persaingan pekerjaan dan di dunia pendidikan yang begitu ketat sehingga semua orang  dituntut untuk menjadi yang teraik dari yang terbaik. Jadi Manson mencoba membuka cara berpikir lain. Bahwa untuk mencari kebahagiaan, kita tak perlu menyenangkan semua orang. 

Manson menuliskan dengan gaya penulisan yang asyik dan mudah dipahami oleh semua generasi masa kini. Dari kalimatnya yang komunikatif, dia berusaha mengajak kita berbicara bukan berbicara pada kita.

Ada beberapa kisah yang Manson tulis pada buku tersebut. Tentu saja dari kisah-kisah tersebut kita dapat mengambil moral value yang mengarahkan pada sudut pandang yang baik dengan tujuan bahagia. Pada kisah pertama di Bab I yang unik, ia mengakat kisah Charles Bukowski yang memiliki motto hidup "Jangan Berusaha". Tak seperti para motivator lain yang membangkitkan semangat kita untuk berusaha lebih dan lebih dengan suara yang berapi-api seperti pimpinan serdadu yang membangkitkan gelora prajuritnya.

Tapi secara keseluruhan bukan itu inti dari buku tersebut. Penasaran? Silakan beli di toko buku atau platform belanja online kesayangan Anda.

Oh iya, saya tipe orang yang suka menandai buku dan mencatat hal-hal terkait dengan apa yang saya baca seperti perserteruan kelompok Taliban dalam buku tersebut dengan berita yang saya baca suatu pagi di CNN. Jadi saya menandai seperti ini:




Rating dari saya 8/10




Bila tadi kita membahas buku yang berlatar struggle-nya orang Amerika, sekarang kita bahas tentang sebuah buku yang menjawab keresahan hati orang Jepang hehe.. Ichiro dan Fumitake membahas teorii psikologi "Teleologi"-nya Alfred Adler dengan cara penyampaian seperti buku-buku filsafat zaman baheula, yakni percakapan antara seorang filsuf dengan pemuda.

Di buku ini bahasa penulisannya terkesan lebih kaku ya, namun untuk memperluas wawasan sih sangat saya rekomendasikan. Terlihat banyak sekali halaman yang saya tandai di foto di atas. Kalau saya tentu saja tujuannya untuk kutipan apabila ada karya fiksi saya yang bersinggungan dengan hal terkait hehe..

Saya tergolong slow-reader, dan membaca buku ini cukup menguras waktu, tenaga, dan pikiran saya karena memang saya tidak memiliki basic psikologi serta kalimatnya cukup berat. Jadi untuk benar-benar memahami sepertinya saya harus membaca lebih dari sekali.

Dari catatan saya mengenai buku ini, over all untuk mengembangkan diri kita, kita harus mengetahui mengenai tanggung jawab masing-masing pribadi. Tidak boleh mangkir dari tanggung jawab, serta tidak boleh mengambil tanggung jawab orang lain. Ternyata, tanpa kita sadari kita sering melakukan keduanya lho.. 

Apa saja tanggung jawab tersebut? Silakan dibeli bukunya hehe.. Saya nggak mau spoiler.

Rating 7,2/10

Next:


 
Kalau buku yang satu ini asli nusantara hehe.. Sama seperti kedua buku sebelumnya, Henry dalam "Filosofi Teras" juga mencoba untuk mengurai persoalan yang dikhawatirkan dan dihadapi oleh masyarakat Indonesia dewasa ini. Ia bahkan melakukan Survei Khawatir Nasional. Tentu saja hal ini tidak dapat dikatakan sebagai data yang sangat valid ya, karena yang mengakses survei tersebut hanya masyarakat-masyarakat perkotaan dan tidak dilakukan oleh seluruh warga Indonesia.

Meskipun demikian, kita bisa menganggapnya sebagai perwakilan kali ya.. yang mau mengisi kuisioner-kuisioner terkait keresahan apa saja sih yang dikhawatirkan oleh masyarakat negara ini?

Vibes penulisannya mirip dengan Mark Manson, di mana Henry juga mencoba berkomunikasi dengan pembacanya dan dapat dipahami mulai dari usia remaja hingga dewasa. Meski tak ada teori filsafat yang tak menjemukan, Henry berusaha keras untuk menyajikan buku ini se-asyik mungkin. 

Henry mengangkat filosofi teras atau "Stoisisme" sebagai medium yang dapat menjawab segala permasalahan yang meresahkan. Kita akan melihat banyak sekali kutipan perkataan dari penganut filsafat stoisisme ini yang bertebaran di hampir seluruh lembar bukunya. Beberapa ialah Marcus Aurelius, Seneca, dan Epictetus.

Saya senang dengan tokoh-tokoh zaman dahulu, menurut saya mereka sangat keren dengan ideologi-ideologi yang mereka emban. Dan Henry berhasil menyampaikan tulisannya dengan sudut pandang yang membuat kita semakin melihat betapa kerennya orang zaman dahulu yang patut kita tiru.

Dalam buku ini juga mengutip ucapan Ali bin Abi Thalib (namun saya lupa tentang apa dan di halaman berapa) yang pasti membuat saya teringat tentang quotes yang cukup terkenal sebagai berikut:

"Betapa bodohnya manusia, dia menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan. Tapi menangis di masa depan dengan mengingat masa lalunya."-Ali bin Abi Thalib.

Rating dari saya 8,3/10.

Sekian dulu review buku self-improvement dari saya semoga bisa membantu teman-teman yang mencari buku terkait namun bingung memilih. Sampai jumpa pada kesempatan berikutnya ^^

Wassalamualaikum wr. wb.






Comments

Popular posts from this blog

Karya George Orwell

  Assalamualaikum wr. wb. Setelah sekian lama saya tenggelam, akhirnya saya bisa kembali lagi menorehkan ulasan terhadap buku-buku ciamik. Kali ini yang akan saya bahas adalah karya-karya legend dari George Orwell. Orwell yang memiliki nama asli Eric Arthur Blair, merupakan mantan polisi yang ditugaskan di Burma, juga seorang veteran yang pernah ikut berperang dalam perang saudara di Spanyol pada 1936. Hingga akhirnya beliau bekerja untuk BBC Eastern Service dan menjadi redaksi sastra yang sering berkomentar tentang politik dan sastra setelahnya. Background penulis sendiri memiliki daya tarik yang begitu besar yang membuat kita menerka-nerka seperti apa sih tulisannya? Yuk kita intip ^^ 1. Animal Farm Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang. Edisi II cetakan kesebelas, tahun terbit: 2021. Tebal buku: 142 halaman. D ari covernya sudah diiming-imingi dengan jargon "Novel klasik fenomenal." Tentu saja itu cara marketing yang keren. Membuat calon pembeli jadi terpikat. Tapi saya priba...

The Poppy War Series

  Assalamualaikum wr., wb. Kali ini saya ingin mengulas buku bacaan yang gak kalah fenomenal, bahkan saya sangat antusias terhadap series ini.  Sebelumnya saya mohon maaf karena seharusnya series ini merupakan trilogi, namun yang ketiga belum saya beli karena masih dalam proses penerjemahan (katanya) dan belum ada uangnya hehe ^^. Semoga lekas terbeli dan saya bisa melengkapi ulasan trilogi dari perang opium yang digagas oleh R. F. Kuang. Saya pribadi merupakan orang yang tak terlalu gemar membaca genre fantasi, namun sisipan historical fiction membuat saya bertekad untuk membeli serial ini. Namun, saya tidak salah pilih membeli serial ini sebagai pengantar yang membuat saya penasaran dengan cerita fantasi tinggi lainnya. Karena Kuang benar-benar berhasil membawa pembacanya menelusuri dunia dan merasakan kekuatan yang ia ciptakan. Tak perlu fafifu lagi, mari kita review.  1. The Poppy War. Diterbitkan oleh: Gramedia Pustaka Utama. Tahun terbit: 2019. Tebal buku: 568 halam...