Buku ini dapat dikatakan memiliki genre distopia, di mana suatu kejadian di masa depan bisa mengalami keterpurukan yang buruk. Kenapa masa depan? Kan 1984 sudah lampau?
Bagi Orwell, buku ini merupakan masa depan dalam bayangannya karena ia telah wafat di awal tahun 1950.
Berbeda dengan sudut pandang di Animal Farm yang menggunakan POV 3 serba tahu, dalam 1984 Orwell fokus pada sudut pandang ke tiga terbatas pada tokoh yang bernama Winston Smith.
Pria yang bernama WInston tersebut merupakan anggota partai yang memiliki kehidupan yang selalu dalam pengawasan Polisi Pikiran dengan teleskrin yang terpasang di setiap ruangan. Gerak-gerik bahkan hingga ke mimik muka yang mencurigakan akan dianggap sebagai kejahatan pikiran dan bisa mengakibatkan hal yang sangat fatal yaitu diuapkan. Seseorang yang diuapkan dianggap tak pernah ada, semua catatan tentangnya akan dihapuskan.
Winston bekerja di departemen catatan yang berada di bawah naungan Kementerian Kebenaran. Ia bertugas untuk memalsukan dan mengubah sejarah sesuai dengan yang diinginkan partai. Oleh karenanya ia memiliki pemikiran bahwa apa yang dilakukan partai tidaklah benar. Dalam jiwanya dialiri rasa ingin berontak. Hingga ia bertemu dengan Julia, kekasihnya, dan bersekongkol dengan O'Brien. Namun ternyata ... (Endingnya baca sendiri di bukunya ya~ saya nggak mau spoiler).
Orwell memiliki gagasan bahwa sistem hierarki masyarakat selamanya dijadikan menjadi tiga tingkatan yakni tinggi, menengah, dan bawah. Dalam 1984, tingkatan tinggi diduduki oleh Partai Inti, menengah oleh Partai Anggota, dan rendah oleh kaum proletar.
Menurut saya, pola dan konsep dalam 1984 mirip dengan Animal Farm. Hanya saja karena penokohan diberikan pada manusia, juga yang merupakan anggota partai, maka Orwell dapat menceritakan mekanisme dari gagasannya dengan cara yang lebih kompleks. Ia juga membagi dunia menjadi tiga kelompok negara besar yakni Oceanian, Eustasia, dan Eurasia. Sama seperti di cerita sebelumnya, Oceanian yang digambarkan sebagai Inggris dan Amerika serta beberapa negara kepulauan di Pasific, selalu bersengketa dan memihak salah satu di antara Eustasia dan Eurasia.
Karya Orwell sepertinya memiliki ciri khas dengn jargon dan lagu. Bila sebelumnya para binatang memiliki jargon tujuh perintah, maka dalam 1984 memiliki tiga slogan partai.
Konsep ini dari buku ini sendiri menurut saya terdapat dalam gagasannya yang ia skemakan di "Kolektivisme Oligarki." Oceanian ia bentuk sebagai negara yang memiliki sistem masyarakat sosialis di mana harta benda menjadi milik bersama, tak ada kesenjangan sosial, hanya kesenjangan kekuasaan. Sedangkan sistem pemerintahan menggunakan totalitarianisme. Atau mungkin bahkan sistem baru di atas kemutlakan totaliterian yang Orwell bangun sendiri mengingat dalam dialog O'Brien di bagian akhir mengatakan bahwa "...depotisme akan mengatakan "Janganlah engkau...," totaliterian mengatakan, "Kamu harus...," dan kami mengatakan, "Engkau ialah..."
Selain itu satire yang ia ungkapkan juga sangat terasa dari penamaan kementerian-kementerian yang ia ciptakan. Nama-nama kementerian tersebut memiliki kontradiksi dari fungsi yang sesungguhnya. Seperti Kementerian Perdamaian yang memiliki tugas untuk berperang, Kementerian Kebenaran sebagai lidah partai untuk berbohong, Kementerian Cinta Kasih untuk menyiksa, dan Kementerian Tumpah Ruah untuk menyelenggarakan paceklik dan kelaparan.
Buku ini juga memiliki diksi yang kaya, hal ini tak lepas dari peran penerjemah yang memberikan banyak variasi akan setiap kata yang ia terjemahkan.
Kedua buku Orwell di atas, bagi saya bukan untuk hiburan semata. Namun sebagai pengantar bagi setiap pembacanya untuk berpikir lebih terbuka.
Mungkin sekian dulu ulasan tentang buku-buku yang berhasil menjadi legenda ini. Saya juga sangat berharap bisa menemukan bacaan-bacaan dengan gagasan yang brilian seperti karya Orwell. Barangkali teman-teman memiliki saran bisa disampaikan di kolom komentar ya ^^. Thankyouu..
Wassalamualaikum wr. wb.



Comments
Post a Comment