Skip to main content

Karya George Orwell

 




Assalamualaikum wr. wb.

Setelah sekian lama saya tenggelam, akhirnya saya bisa kembali lagi menorehkan ulasan terhadap buku-buku ciamik. Kali ini yang akan saya bahas adalah karya-karya legend dari George Orwell.

Orwell yang memiliki nama asli Eric Arthur Blair, merupakan mantan polisi yang ditugaskan di Burma, juga seorang veteran yang pernah ikut berperang dalam perang saudara di Spanyol pada 1936. Hingga akhirnya beliau bekerja untuk BBC Eastern Service dan menjadi redaksi sastra yang sering berkomentar tentang politik dan sastra setelahnya.

Background penulis sendiri memiliki daya tarik yang begitu besar yang membuat kita menerka-nerka seperti apa sih tulisannya?

Yuk kita intip ^^



1. Animal Farm




Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang.
Edisi II cetakan kesebelas, tahun terbit: 2021.
Tebal buku: 142 halaman.

Dari covernya sudah diiming-imingi dengan jargon "Novel klasik fenomenal." Tentu saja itu cara marketing yang keren. Membuat calon pembeli jadi terpikat.


Tapi saya pribadi mengenal novel ini setelah membaca novel "Jakarta Sebelum Pagi" karya Ziggy Z yang telah saya bahas di postingan sebelumnya. Saya benar-benar penasaran dengan penggambaran dunia perbabian yang diceritakan oleh si tokoh yang bernama Emina tersebut.  Akhirnya saya membeli novel ini. Yup, seperti yang sudah bisa ditebak dari judulnya, novel ini fabel yang menceritakan tentang hewan-hewan.

Dari sinopsisnya dituliskan bahwa novel ini ialah sebuah alegori politik pada masa Perang Dunia II sebagai satire sistem pemerintahan totalitarianisme yang kemungkinan pada saat itu diemban oleh Uni Soviet. Oke menarik, ini bukan sekadar cerita fabel pengantar tidur biasa.

Masuk ke dalam cerita, mengisahkan tentang ramalan seekor babi tua yang bernama Major, salah satu penghuni Peternakan Manor, bahwa akan tiba masanya hewan-hewan merasakan kemerdekaan. Ia juga mengajarkan para binatang menyanyikan sebuah lagu yang berjudul "Binatang Inggris" untuk menumbuhkan semangat patriotisme. Ramalan dan lagu tersebut disambut gembira oleh seluruh hewan ternak yang mendengarkan ceramahnya. Tapi kapan masa itu tiba?

Tak lama setelah kematian si babi Major, para hewan berontak dan menggulingkan kekuasaan Pak Jones sebagai pemilik peternakan tersebut. Selama beberapa waktu, para hewan di peternakan tersebut berada di bawah pemerintahan para babi yang dipimpin oleh babi Snowball dan Napoleon.

Selain konflik di dalam Peternakan Manor yang berganti nama menjadi Peternakan Binatang dengan tujuh aturannya, Orwell juga menyandingkannya dengan dua peternakan lain yakni Peternakan Foxwood dan Peternakan Pinchfield. Manor yang digambarkan sebagai kiasan bagi negara Inggris diceritakan selalu berkonflik dan berdamai oleh salah satu dari kedua peternakan lainnya. Bila berdamai dengan Foxwood maka bersengketa dengan Pinchfield, begitupun sebaliknya.

Orwell menggambarkan kudeta dan runtuhnya sistem demokrasi kembali dengan para tokoh hewan-hewan tersebut. Ia juga menggunakan bahasa politik yang lebih sederhana menyesuaikan para tokoh yang ia pilih, yakni para hewan. Meskipun demikian, bagi saya novel ini bukanlah bacaan yang ringan karena saya harus menerka-nerka, kira-kira apa yang disampaikan Orwell dengan sebenar-benarnya berkaitan dengan latar waktu ketika ia menuliskannya dan gagasan yang ia miliki. Akhirnya saya memutuskan untuk kembali membeli karyanya yang berjudul 1984.



2. 1984.




Diterbitkan oleh: Penerbit Bentang.
Cetakan Pertama Edisi IV, tahun terbit: 2021.
Tebal buku: 395 halaman.

Buku ini dapat dikatakan memiliki genre distopia, di mana suatu kejadian di masa depan bisa mengalami keterpurukan yang buruk. Kenapa masa depan? Kan 1984 sudah lampau? 

Bagi Orwell, buku ini merupakan masa depan dalam bayangannya karena ia telah wafat di awal tahun 1950.

Berbeda dengan sudut pandang di Animal Farm yang menggunakan POV 3 serba tahu, dalam 1984 Orwell fokus pada sudut pandang ke tiga terbatas pada tokoh yang bernama Winston Smith. 

Pria yang bernama WInston tersebut merupakan anggota partai yang memiliki kehidupan yang selalu dalam pengawasan Polisi Pikiran dengan teleskrin yang terpasang di setiap ruangan. Gerak-gerik bahkan hingga ke mimik muka yang mencurigakan akan dianggap sebagai kejahatan pikiran dan bisa mengakibatkan hal yang sangat fatal yaitu diuapkan. Seseorang yang diuapkan dianggap tak pernah ada, semua catatan tentangnya akan dihapuskan. 

Winston bekerja di departemen catatan yang berada di bawah naungan Kementerian Kebenaran. Ia bertugas untuk memalsukan dan mengubah sejarah sesuai dengan yang diinginkan partai. Oleh karenanya ia memiliki pemikiran bahwa apa yang dilakukan partai tidaklah benar. Dalam jiwanya dialiri rasa ingin berontak. Hingga ia bertemu dengan Julia, kekasihnya, dan bersekongkol dengan O'Brien. Namun ternyata ... (Endingnya baca sendiri di bukunya ya~ saya nggak mau spoiler).

Orwell memiliki gagasan bahwa sistem hierarki masyarakat selamanya dijadikan menjadi tiga tingkatan yakni tinggi, menengah, dan bawah. Dalam 1984, tingkatan tinggi diduduki oleh Partai Inti, menengah oleh Partai Anggota, dan rendah oleh kaum proletar.

Menurut saya, pola dan konsep dalam 1984 mirip dengan Animal Farm. Hanya saja karena penokohan diberikan pada manusia, juga yang merupakan anggota partai, maka Orwell dapat menceritakan mekanisme dari gagasannya dengan cara yang lebih kompleks. Ia juga membagi dunia menjadi tiga kelompok negara besar yakni Oceanian, Eustasia, dan Eurasia. Sama seperti di cerita sebelumnya, Oceanian yang digambarkan sebagai Inggris dan Amerika serta beberapa negara kepulauan di Pasific, selalu bersengketa dan memihak salah satu di antara Eustasia dan Eurasia.

Karya Orwell sepertinya memiliki ciri khas dengn jargon dan lagu. Bila sebelumnya para binatang memiliki jargon tujuh perintah, maka dalam 1984 memiliki tiga slogan partai.

Konsep ini dari buku ini sendiri menurut saya terdapat dalam gagasannya yang ia skemakan di "Kolektivisme Oligarki." Oceanian ia bentuk sebagai negara yang memiliki sistem masyarakat sosialis di mana harta benda menjadi milik bersama, tak ada kesenjangan sosial, hanya kesenjangan kekuasaan. Sedangkan sistem pemerintahan menggunakan totalitarianisme. Atau mungkin bahkan sistem baru di atas kemutlakan totaliterian yang Orwell bangun sendiri mengingat dalam dialog O'Brien di bagian akhir mengatakan bahwa "...depotisme akan mengatakan "Janganlah engkau...," totaliterian mengatakan, "Kamu harus...," dan kami mengatakan, "Engkau ialah..."

Selain itu satire yang ia ungkapkan juga sangat terasa dari penamaan kementerian-kementerian yang ia ciptakan. Nama-nama kementerian tersebut memiliki kontradiksi dari fungsi yang sesungguhnya. Seperti Kementerian Perdamaian yang memiliki tugas untuk berperang, Kementerian Kebenaran sebagai lidah partai untuk berbohong, Kementerian Cinta Kasih untuk menyiksa, dan Kementerian Tumpah Ruah untuk menyelenggarakan paceklik dan kelaparan.

Buku ini juga memiliki diksi yang kaya, hal ini tak lepas dari peran penerjemah yang memberikan banyak variasi akan setiap kata yang ia terjemahkan. 

Kedua buku Orwell di atas, bagi saya bukan untuk hiburan semata. Namun sebagai pengantar bagi setiap pembacanya untuk berpikir lebih terbuka.


Mungkin sekian dulu ulasan tentang buku-buku yang berhasil menjadi legenda ini. Saya juga sangat berharap bisa menemukan bacaan-bacaan dengan gagasan yang brilian seperti karya Orwell. Barangkali teman-teman memiliki saran bisa disampaikan di kolom komentar ya ^^. Thankyouu..

Wassalamualaikum wr. wb.

Comments

Popular posts from this blog

Self-Improvement Books

Assalamualaikum, wr. wb. Hallo :) Saya Nef, untuk pertama kali saya membuat konten pada blog seperti sekarang ini. Semoga tidak terlalu buruk ya untuk ukurah pemula huhu...Oh iya Nef saya ambil dari inisial nama asli saya NF. Teman-teman literasi saya biasa memanggil saya demikian karena nama pena saya cukup ribet "Judging The Norm" hehe... Sebelum memulai blog tentang literasi atau buku-buku bacaan ini, saya juga menulis karya-karya fiksi dalam sebuah platform online yang terkenal dengan istilah dunia orange tapi bukan tempat belanja dengan nama pena tersebut.  Okey langsung saja kita ulas dari buku-buku yang dapat meningkatkan kualitas diri (klaimnya sih begitu), apa saja buku tersebut? Sebenarnya ada lebih banyak dari ketiga buku di atas ya. Namun saya hanya membeli "mereka" karena pada saat itu hype banget di literary base pada twitter. Tentu saja bakat "membeli jajan" saya terpanggil dan mencari tanggal yang tempat untuk melakukan check out di marke...

The Poppy War Series

  Assalamualaikum wr., wb. Kali ini saya ingin mengulas buku bacaan yang gak kalah fenomenal, bahkan saya sangat antusias terhadap series ini.  Sebelumnya saya mohon maaf karena seharusnya series ini merupakan trilogi, namun yang ketiga belum saya beli karena masih dalam proses penerjemahan (katanya) dan belum ada uangnya hehe ^^. Semoga lekas terbeli dan saya bisa melengkapi ulasan trilogi dari perang opium yang digagas oleh R. F. Kuang. Saya pribadi merupakan orang yang tak terlalu gemar membaca genre fantasi, namun sisipan historical fiction membuat saya bertekad untuk membeli serial ini. Namun, saya tidak salah pilih membeli serial ini sebagai pengantar yang membuat saya penasaran dengan cerita fantasi tinggi lainnya. Karena Kuang benar-benar berhasil membawa pembacanya menelusuri dunia dan merasakan kekuatan yang ia ciptakan. Tak perlu fafifu lagi, mari kita review.  1. The Poppy War. Diterbitkan oleh: Gramedia Pustaka Utama. Tahun terbit: 2019. Tebal buku: 568 halam...